Ini dia , negeri tempat aku dilahirkan yang katanya pendidikannya bermutu tinggi. Semua anak negeri ini sekolah dan menuntut ilmu agar bisa menggapai cita-cita mereka. Tapi mengapa saat aku membuka mata aku melihat si anak kecil pagi-pagi sekali sudah berdiri di lampu merah, menengadahkan tangan ke pemilik mobil sambil merengek kelaparan. Aku tak mengerti dimana negeri ku yang katanya itu.
Ini dia, negeri tercintaku yang katanya pemimpinnya jujur, adil, dan peduli nasib rakyat, bersih dari om korurtor sehingga negeriku tercinta bisa kaya. Tapi kenapa ketika aku melangkahkan kaki keluar rumah, si anak kecil masih tetap saja terlantar di jalan. Om koruptor malah menjadikan negeri ini menjadi negeri yang hidup dari hutang luar negeri dengan segala campur tangan dan rekayasa pembodohan bangsa, negeri yang satu demi satu dijual kepada pihak asing, negeri yang rakyatnya semakin melarat tetapi terus diperas oleh para pemimpinnya sendiri.
Ini dia negeri damaiku yang katanya tentram, tapi kok aku lihat di sebelah sana mbak-mbak dan mas-mas mahasiswa sudah hampir 2 bulan berdemonstrasi untuk mengingatkan pemerintah, tapi ternyata pemerintah memang sudah tidak mau lagi mendengar, malah melakukan tindakan refresif terhadap mahasiswa. Pemerintah juga berencana menaikkan tarif listrik, akan menjual lagi puluhan BUMN dengan serampangan dan penuh praktek-praktek om koruptor seperti Danamon dan Lippobank.
Ini dia negeriku yang di pimpin oleh pemerintah yang katanya sangat bertanggung jawab atas nasib bangsa saat ini, hingga sudah banyak catatan merah yang mewarnai kinerja pemerintahan mega-hamzah. Kasus tenaga kerja luar negeri, hilangnya Sipadan ligitan, Divestasi Indosat, Kenaikan tarif listrik, Pemberian ampunan kepada para konglongmerat bermasalah, carut marut penegakan hukum dan semakin mengguritanya praktek-praktek om koruptor, ini bukti rendahnya kualitas pemerintah yang mengelola negara.
Malang ya negeri ini,dipimpin oleh orang-orang yang sudah tidak lagi memihak kepada rakyanya sendiri namun menghamba kepada pihak asing dan konglongmerat hitam, hanya untuk mendapatkan 15,7 triliyun, pemerintah harus memeras rakyat dengan mencabut subsidi untuk rakyat,padahal untuk mensubsidi bank-bank milik para konglongmerat hitam, pemerintah dalam setiap tahun harus mengeluarkan minimal 40 triliyun. Lalu, hutangan ini masi saja di ambil sedikit-sedikit oleh om koruptor.
Aku masih saja tak mengerti dimana negeri yang katanya itu.Tetapi mau bagaimana lagi, ini memang Negeri yang aku sebut tercinta dan tanah air tempat aku dilahirkan yang katanya itu dan memang hanya katanya …
Fithratun nuha tsabita




Tidak ada komentar:
Posting Komentar